← Kembali ke Berita
Kemuslimahan 20 February 2026 • 6 views

SYARAT MENDAPAT MANFAAT AL-QUR’AN

R
Rita Nataliana
Penulis

SYARAT MENDAPAT MANFAAT AL-QUR’AN

Pemateri : Ustadzah Ida Dwi Astuti 



Untuk merasakan manfaat yang maksimal dari Al-Qur’an, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan. diantaranya adalah sbb.


Pertama, kita harus ikhlas karena Allah. Kita perlu menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa membelokkan amal kita. Oleh karena itu, kita harus banyak berdoa pada Allah Allah menjaga niat kita.


Kemudian, kita harus fokus / menghadirkan hati dan pikiran. Seseorang harus mengosongkan dirinya dari kesibukan yang mengganggu ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an. 


Ini bukan berarti meninggalkan seluruh urusan dunia, tetapi menyediakan ruang khusus dalam jiwa dan waktu agar fokus bersama Al-Qur’an.


Interaksi dengan Al-Qur’an seharusnya menjadi prioritas dalam hidup, bukan sesuatu yang dilakukan hanya jika ada sisa waktu. Kesadaran inilah yang menuntun kita untuk menempatkan Al-Qur’an pada posisi yang semestinya dalam kehidupan.


Ada kalanya muncul sesuatu yang membuat kita merasa tidak nyaman dan ingin segera mengakhiri interaksi kita dengan Al-Qur’an.  Maka kita harus berjuang dan mengalahkannya. Kita perlu berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan ketika membaca Al-Qur’an.” Mintalah hal itu kepada Allah. 


Selebihnya, jauhkan hal-hal yang mengganggu, baik suara-suara, ponsel, maupun hal lain yang membuat kita tidak fokus, termasuk kebiasaan menyambi-nyambi.


Ada yang bertanya, “saya pernah melihat orang mengaji sambil di kereta, itu bagaimana?” Itu karena orang tersebut tahu bahwa pekerjaannya banyak, apalagi bagi wanita yang bekerja, harus mengurus anak, suami, rumah, dan pekerjaan kantor. Tetapi dia tidak ingin meninggalkan Al-Qur’an. Maka dia berkomitmen dan memaksakan dirinya membaca Al-Qur’an setiap hari walaupun di kereta atau di bus. Ia berusaha memaksakan agar hati selalu terpaut dengan Al-Qur’an. 


Membaca Al-Qur’an saja sudah bernilai amal, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. Setiap huruf dilipatgandakan pahalanya. 


Namun ada kewajiban lain selain membaca, yaitu mentadaburi Al-Qur’an. Hal ini berkaitan dengan fungsi Al-Qur’an sebagai hudan, sebagai penjelas, sebagai petunjuk, dan sebagai furqan, pembeda antara yang benar dan yang salah.


Allah berfirman dalam QS. Muḥammad (47) ayat 24, “Afalā yatadabbarūnal-Qur’ān”, maka tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an? 


Agar Al-Qur’an menjadi cahaya, menjadi petunjuk, menjadi imam, dan menjadi rahmat bagi kita, maka tadabur adalah kuncinya. Jika tidak sempat mentadaburi secara langsung, kita bisa mendengarkan kajian-kajian yang membahas ayat-ayat Al-Qur’an. Itu pun bagian dari proses tadabur.


Selain itu, adab terhadap Al-Qur’an juga perlu dijaga. Di antaranya adalah menjaga kesucian dengan berwudu dan membaca di tempat yang bersih. Walaupun ada pendapat yang membolehkan membaca Al-Qur’an tanpa wudu, namun menjaga adab tetap lebih utama.


 Allah juga berfirman dalam Surah Al-A‘rāf: 204 

“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik dan diamlah agar kamu mendapat rahmat”.


Rahmat Allah turun ketika kita mendengar, diam dan menyimak bacaan Qur’an. Rahmat dari Allah itu yang akan melembutkan hati dan membimbing kehidupan kita.


Tekad utk berinteraksi terus dengan Al-Qur’an harus kuat. Sama halnya dengan ketika dulu kita ingin menyelesaikan skripsi atau tugas kuliah/kantor, ketika berusaha dengan segala cara agar bisa selesai. Kita kalahkan rasa kantuk, malam-malam membuat kopi, mencari cemilan,  doping, beli nasi goreng atau apapun agar tetap bisa bertahan. 


Pertanyaannya, apakah dorongan itu juga hadir ketika kita ingin membaca Al-Qur’an?


Jika dorongan itu tidak sebesar itu, berarti kita belum berkomitmen pada capaian kita. Kita menjadikan Al-Qur’an sebagai kegiatan “kalau ada waktu”, bukan prioritas. Padahal jika dijadikan prioritas utama, kita akan punya target harian. 


Interaksi dengan Qur’an harus diperjuangkan. Tidak hadir dengan sendirinya. 


Kita juga tidak perlu galau dengan bisikan seperti, “Malu ah ngaji, nanti dibilang sok alim.” Itu hanyalah bisikan yang ingin menghalangi kita dari amal saleh. Jangan pedulikan manusia. Harapkanlah kepada Allah agar dimudahkan.


Seorang ulama berkata, “Jika ingin melihat seberapa cinta Allah kepadamu, lihat seberapa cintamu kepada Qur’an.”


Setiap orang berproses. Ada yang satu halaman, dua halaman, atau dua surat. Tidak masalah. Yang penting proses itu ada dan tekadnya diteguhkan.


Kita tahu tabiat manusia itu lemah dan malas. Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa, “Ya Allah, aku berlindung dari sifat lemah dan malas.” 


Kenyamanan hidup sering kali melalaikan kita dan melemahkan dorongan untuk berjuang. Maka kita perlu daya dorong dan berdoa kepada Allah.


Salah satu daya dorong adalah pemahaman kita bahwa Al-Qur’an akan menyelesaikan masalah hidup kita, membantu kita, menolong kita, dan memberi syafaat kelak, maka usaha kita akan besar dan terasa ringan. 


Seperti orang yang memakai helm, awalnya terasa berat, lama-lama menjadi kebiasaan karena ia paham bhw itu utk keselamatan.


Ingatlah hadis.

“ Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya”. (HR Muslim) 


Kehidupan ini pasti berakhir, dan Al-Qur’an adalah tabungan kita. Bisa saja di awalnya  merasakan berat, namun semua bisa dilatih/dibiasakan. 


Apalagi sebentar lagi bulan Ramadan, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Mari mulai berkomitmen dari sekarang. 


Allah berfirman bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Allah tidak menggunakan kata bahagia, tetapi kata ketenangan. Orang yang tenang pasti bahagia, tetapi orang yang merasa bahagia belum tentu tenang.


Ketika kita bersungguh-sungguh mencari rida Allah, Allah akan memudahkan jalan-jalan kita, termasuk memudahkan kita menerima takdir-Nya.


Tidak ada yang salah dengan takdir Allah. Bisa jadi sesuatu yang kita benci justru baik menurut Allah.


Dengan berinteraksi dengan Qur’an, maka Qur’an akan memberi warna, ketenangan, dan kelapangan dalam rumah kita. Kalau tidak bisa menuntut semuanya, ibda’ binafsik, mulai dari diri kita.


Ketika cahaya itu sudah ada dalam diri kita, auranya akan mewarnai rumah tangga kita.


Maka jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an. Hidup memang penuh masalah. Tetapi Al-Qur’an adalah pedoman, penenang, dan cahaya. Mari kita bangun komitmen, bersungguh-sungguh, dan terus memohon kepada Allah agar Al-Qur’an benar-benar menjadi imam, rahmat, dan sahabat kita, di dunia dan di akhirat.


Diresumekan oleh Seksi Kemuslimahan – DKM Al-Hidayah BAPETEN