Peringatan Nuzulul Qur'an 2026
← Kembali ke Berita
Peringatan Hari Besar Islam 05 March 2026 • 18 views

Peringatan Nuzulul Qur'an 2026

S
Sukanta
Penulis

Al-Qur’an menjadi panduan bagi kita semua. Ketika ada keraguan dalam hidup, setiap orang pasti ingin hidup bahagia. Namun, apakah bahagia itu selalu identik dengan terpenuhinya kenyamanan? Apakah kebahagiaan harus diraih melalui popularitas? Apakah bahagia selalu diukur dengan kehidupan yang dianggap tinggi dan terpandang?

Al-Qur’an menjelaskan jauh lebih dalam dari itu semua.

Jika seseorang ingin bahagia dengan harta, lalu ia memiliki harta tersebut, tetapi hartanya tidak digunakan di jalan Allah, maka apa yang terjadi? Ketika harta menjadi tujuan utama hidupnya, saat ia belum mendapatkannya, ia akan gelisah. Dan ketika ia sudah mendapatkannya, ia pun tetap tidak tenang. Bahkan, bisa jadi harta itu justru menjauhkan dirinya dari kebahagiaan—mengganggu keluarga, rumah tangga, dan berbagai aspek kehidupannya.

Karena itu, Al-Qur’an hadir sebagai penuntun hidup bagi kita semua. Bukan hanya untuk kehidupan sekarang, tetapi juga untuk kehidupan yang abadi. Kita yang beriman meyakini bahwa dunia ini hanyalah persinggahan, seperti seseorang yang sedang menyeberangi jalan menuju tujuan yang jelas. Di akhirat nanti hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Jika tidak masuk surga, maka tempatnya adalah neraka. Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara.

Nabi ﷺ mengingatkan bahwa rata-rata usia manusia sekitar 60 hingga 70 tahun. Ada yang lebih, ada pula yang kurang. Katakanlah kita hidup 60 atau 70 tahun, lalu kematian datang dan kita masuk ke alam barzakh. Orang-orang yang wafat seratus tahun lalu, hingga hari ini belum terjadi kiamat, berarti mereka sudah sangat lama berada di alam barzakh—padahal usia mereka di dunia belum tentu sampai seratus tahun. Begitu pula yang wafat seribu tahun lalu; hingga kini kiamat belum tiba.

Bandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.

Jika di dunia kita diberi kesenangan dan kebahagiaan, itu hanyalah sebagian kecil dari kenikmatan yang Allah sediakan. Sungguh rugi orang yang hanya mengejar kebahagiaan sementara di dunia, tetapi kehilangan kebahagiaan yang abadi.

Kita mengetahui bahwa satu hari di akhirat setara dengan seribu tahun menurut perhitungan dunia. Maka semoga Allah menyelamatkan dan memuliakan kita semua.

Namun sebelum menuju akhirat, tentu kita juga ingin bahagia di dunia ini. Allah telah menjamin dalam Al-Qur’an bahwa kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya. Allah berfirman bahwa siapa saja yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan ia beriman kepada Allah, maka Allah akan memberinya kehidupan yang baik—kehidupan yang bahagia, kehidupan yang menyenangkan, kehidupan yang penuh ketenangan dan cahaya.

Ada sebuah kisah tentang seseorang yang divonis secara medis usianya tidak lama lagi karena kanker otak. Secara hitungan dokter, mungkin hanya beberapa bulan. Dalam kondisi sakit itu ia merenung, “Apa yang akan aku bawa menghadap Allah? Apa yang bisa aku pertanggungjawabkan?”

Dalam keadaan lemah dan sakit, ia bertekad menjadi bagian dari ahlul Qur’an. Ia mulai membaca, lalu menghafal ayat demi ayat, surat demi surat, hingga berhasil menghafal tiga juz. Bukan hanya membaca, tetapi menghafal dalam keadaan sakit.

Ketika ia kembali diperiksa, dokter terkejut. Dengan penuh takbir dan tahmid, ia menyampaikan bahwa kondisinya membaik. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an benar-benar menjadi penolong bagi orang yang berinteraksi dengannya.

Banyak orang yang hidupnya gelap—baik secara ekonomi maupun batin—menjadi terang ketika kembali kepada Al-Qur’an. Sebenarnya bukan kita yang menjaga Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’anlah yang menjaga kita.

Karena itu, marilah kita semakin intensif berinteraksi dengan Al-Qur’an—membacanya, memahaminya, menghayatinya, dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh.

Ada seorang pakar internasional yang pernah mengatakan, setiap kali ia akan mengambil keputusan besar, ia membuka Al-Qur’an dan membaca halaman mana saja. Dari sana ia mendapatkan inspirasi dan petunjuk. Mengapa? Karena ia yakin bahwa Allah telah berfirman di dalamnya, dan firman Allah selalu mengarahkan kepada kebaikan dan kebahagiaan.

Semua manusia ingin bahagia dan tenang. Kuncinya adalah ketika kita bersama Al-Qur’an.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar meraih kebahagiaan itu? Yang pertama, Allah mengaitkannya dengan ketakwaan.

Takwa kepada Allah SWT adalah awal dari kebahagiaan. Ketika kita melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, di situlah Allah mulai menunjukkan kebahagiaan kepada kita. Inilah kuncinya: kebahagiaan itu datang ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an dan bertakwa kepada Allah. Apa yang Allah janjikan pasti benar dan pasti terjadi.

Di antara dalilnya adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.”

Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allah akan limpahkan rezeki dari arah yang tidak pernah ia perkirakan. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah pasti akan mencukupkannya.

Berapa banyak orang yang tidak bergelimang harta, hidupnya sederhana, tetapi justru lebih tenang dan lebih bahagia dibandingkan orang yang hartanya melimpah? Mengapa? Karena orang yang hartanya banyak belum tentu merasa cukup. Hari ini ingin bertambah, besok ingin bertambah lagi. Tidak pernah puas.

Padahal yang Allah berikan bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan, keselamatan, dan rasa cukup dalam hati. Itulah kebahagiaan yang hakiki.

Al-Qur’an memberi petunjuk agar kita melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Jangan sampai kita ingin meraih sesuatu dengan cara yang tidak halal, dengan cara yang tidak baik, atau dengan jalan yang tidak dibenarkan. Misalnya dengan korupsi, mencuri, atau mengambil hak orang lain. Mungkin secara materi terlihat berhasil, tetapi apakah bisa menikmati hasilnya dengan tenang? Belum tentu.

Sebaliknya, orang yang berkomitmen mengikuti petunjuk Al-Qur’an—tidak korupsi, tidak mengambil hak orang lain, menjaga amanah—hidupnya lebih ringan. Ia bisa berinteraksi dengan orang lain dengan ceria, tidak merasa rendah diri, tidak merasa takut. Ia menikmati hubungannya dengan Allah, dan hari-harinya lebih tenang.

Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya materi, walaupun materi bisa menjadi penunjang kehidupan. Rasulullah  menjelaskan bahwa di antara faktor kebahagiaan adalah memiliki pasangan yang baik, kendaraan yang nyaman, dan rumah yang layak. Namun itu semua hanyalah pendukung, bukan inti kebahagiaan.

Bahkan Rasulullah  bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan sehat badannya, aman lingkungannya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya. Artinya, kebahagiaan itu sederhana.

Kemudian bagaimana cara meraih kebahagiaan menurut Al-Qur’an?

Salah satunya adalah dengan berzikir kepada Allah. Allah berfirman bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Kadang orang mengeluarkan biaya besar hanya untuk mencari ketenangan, padahal ketenangan itu ada pada bagaimana kita mengelola hati dan jiwa kita. Dan Allah sudah memberikan caranya: berzikir.

Zikir bukan hanya membaca kalimat-kalimat tertentu, tetapi juga membaca Al-Qur’an, mengingat Allah dalam setiap keadaan, dengan lisan dan hati. Tidak harus di tempat tertentu, tidak harus dengan pakaian tertentu. Bisa di mana saja, kapan saja.

Allah menggambarkan orang-orang beriman sebagai mereka yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi. Zikir bukan milik kelompok tertentu. Zikir adalah kebutuhan setiap hati.

Selain zikir, ada pula doa. Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai meneteskan air mata, ia merasakan kedekatan dengan Allah. Ia yakin bahwa Allah mendengar doanya, yakin bahwa Allah mampu mewujudkan apa yang ia pinta, dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik baginya.

Inilah jalan kebahagiaan: takwa, tawakal, menjaga kehalalan, zikir, dan doa. Semua telah Allah tunjukkan dalam Al-Qur’an. Tinggal kita mau atau tidak untuk mengamalkannya.

Tadi pagi saya membaca sesuatu yang sempat membuat hati saya tertekan. Namun pagi itu saya mencoba berdoa dengan kalimat yang sederhana, tetapi maknanya sangat dalam:

“Allahumma anta Anta wa ana ana.”

Ya Allah, Engkau adalah Engkau, dan aku adalah aku.

Engkau tetaplah Tuhan Yang Maha Sempurna, Maha Pengampun.

Sedangkan aku adalah hamba yang penuh dosa.

Aku dengan dosa-dosaku, dan Engkau dengan ampunan-Mu.

Karena Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah aku.

Intinya adalah memohon ampun kepada Allah SWT. Mengakui bahwa kita memang banyak dosa, lalu berharap penuh kepada ampunan-Nya. Dengan doa sederhana itu, hati menjadi lebih ringan. Ada harapan kepada Allah. Dan ternyata, ketika kita bersungguh-sungguh dalam doa, Allah memberikan ketenangan dan kebahagiaan di hati.

Maka sebenarnya kebahagiaan itu idealnya lahir dari dalam—dari spiritual kita—kemudian didukung oleh aspek material. Dan itu akan tumbuh ketika kita mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Jaminan dari Allah SWT pasti benar.

Lalu apakah orang yang bahagia itu tidak pernah diuji? Tidak. Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian adalah sebuah kepastian. Para nabi diuji. Orang-orang beriman juga diuji. Apakah manusia mengira bahwa ketika mereka berkata, “Kami beriman,” lalu mereka tidak diuji? Tidak demikian.

Ujian tetap ada. Namun Allah akan memberikan kemampuan kepada hamba-Nya untuk menghadapinya. Bahkan dari ujian itu sering kali lahir hikmah yang besar.

Berapa banyak orang yang akhirnya menyadari bahwa di balik peristiwa yang menyakitkan, ternyata ada kebaikan? Karena Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu tanpa hikmah.

Ada sebuah kisah tentang seorang raja yang gemar bermain pisau. Suatu hari tangannya terluka. Ia bertanya kepada pengawalnya yang setia, “Menurutmu, apa hikmah dari kejadian ini?” Pengawal itu menjawab, “Pasti ada kebaikan di dalamnya.”

Raja marah mendengar jawaban itu dan memenjarakan pengawal tersebut.

Beberapa waktu kemudian, sang raja pergi berburu. Dalam perjalanan, ia tertangkap oleh suatu kaum yang hendak menjadikannya sebagai korban persembahan. Namun sebelum disembelih, tubuhnya diperiksa. Ternyata ada cacat pada tangannya—luka bekas sayatan tadi. Karena korban persembahan harus dalam keadaan sempurna, ia pun dibebaskan.

Raja pun sadar, ternyata benar ada kebaikan di balik luka itu.

Setelah kembali, ia membebaskan pengawalnya dan berkata, “Sekarang aku mengerti hikmah dari lukaku. Tapi apa hikmah dari pemenjaraanmu?”

Pengawal itu menjawab, “Wahai Raja, bukankah saya selalu bersama Anda? Jika saya tidak dipenjara, tentu saya ikut berburu bersama Anda. Ketika Anda dibebaskan karena ada luka di tangan, kemungkinan besar saya yang akan dijadikan korban pengganti. Justru karena saya dipenjara, saya selamat.”

Ternyata benar, selalu ada kebaikan dari Allah SWT.

Contoh lain adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Beliau dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri dan dimasukkan ke dalam sumur. Secara lahiriah itu musibah besar. Namun dari peristiwa itu, Allah menyelamatkan beliau. Ada kafilah dagang yang lewat, mengangkatnya dari sumur, lalu ia sampai ke Mesir. Dari sanalah rangkaian takdir Allah berjalan hingga akhirnya Nabi Yusuf menjadi orang yang mulia dan berkuasa.

Artinya, jangan tergesa-gesa menilai sebuah peristiwa sebagai keburukan mutlak. Bisa jadi di baliknya Allah sedang menyiapkan kebaikan yang jauh lebih besar

📸 Galeri Terkait

Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image Gallery image
▶️
Video

Berita Terkait